KreasiMedia, Jakarta || Film horor petualangan Petaka Gunung Welirang hadir dengan mengangkat cerita yang terinspirasi dari pengalaman pendakian nyata di kawasan Gunung Arjuno-Welirang, Jawa Timur. Film ini memadukan unsur misteri, persahabatan, keluarga, dan perjuangan hidup dalam balutan kisah yang berakar dari berbagai pengalaman lapangan.
Karya terbaru tersebut diperkenalkan kepada publik melalui acara pemutaran perdana untuk media yang berlangsung di Jakarta, Rabu (24/6/2026). Dalam kesempatan itu, para pemain, produser, sutradara, dan penulis cerita berbagi pengalaman mengenai proses kreatif yang melahirkan film tersebut.
Produser Chand Parwez Servia mengungkapkan bahwa film berlatar pegunungan selalu memberikan pengalaman berbeda dibandingkan produksi film pada umumnya. Selain menghadapi tantangan teknis, tim produksi juga sering menjumpai berbagai kejadian yang sulit dijelaskan secara rasional.
Menurut Chand Parwez, lingkungan pegunungan memiliki karakter tersendiri yang kerap menghadirkan pengalaman tak terduga selama proses produksi berlangsung. Hal tersebut menjadi salah satu alasan mengapa film bertema pendakian selalu meninggalkan kesan mendalam bagi para pembuatnya.
“Pengalaman membuat film tentang gunung selalu menjadi pengalaman yang menarik. Bukan hanya soal berkreativitas, tetapi juga ada faktor-faktor yang cukup misterius dan tidak biasa,” ujar Chand Parwez saat memberikan sambutan.
Ia menjelaskan bahwa gagasan awal film berangkat dari cerita dan pengalaman yang disampaikan oleh penulis cerita, Maya Azka. Pengalaman tersebut berkaitan dengan Alas Lali Jiwo, sebuah kawasan di jalur pendakian Gunung Arjuno-Welirang yang dikenal memiliki berbagai cerita mistis di kalangan masyarakat maupun para pendaki.
Kawasan Alas Lali Jiwo selama ini kerap dikaitkan dengan fenomena kehilangan arah yang dialami sejumlah pendaki. Cerita-cerita yang berkembang dari mulut ke mulut kemudian menjadi bahan eksplorasi yang memperkaya dunia cerita dalam film.
Meski terinspirasi dari berbagai kisah nyata, Chand Parwez menegaskan bahwa Petaka Gunung Welirang tetap merupakan karya fiksi. Berbagai peristiwa dan karakter yang ditampilkan telah melalui proses pengembangan cerita untuk kebutuhan dramatik film.
Ia mengatakan bahwa film tersebut tidak dimaksudkan sebagai rekonstruksi kejadian nyata. Sebaliknya, film ini menjadi medium untuk mengolah pengalaman dan cerita masyarakat menjadi sebuah karya sinema yang memiliki nilai hiburan sekaligus pesan moral.
Sementara itu, penulis cerita Maya Azka mengungkapkan bahwa proses penciptaan cerita diawali dari pengalaman pribadinya saat melakukan riset langsung di Gunung Arjuno-Welirang. Ia melakukan pendakian lebih dari satu kali untuk memahami suasana, budaya, dan berbagai cerita yang berkembang di kawasan tersebut.
Maya mengaku menemukan sejumlah pengalaman yang menurutnya berada di luar nalar selama melakukan riset. Pengalaman-pengalaman tersebut kemudian menjadi inspirasi utama dalam menyusun alur cerita dan karakter yang muncul dalam film.
“Setelah dua kali melakukan riset di Gunung Welirang, saya mendapatkan serangkaian kejadian yang menurut saya di luar nalar. Pengalaman itu datang melalui mimpi dan berbagai peristiwa yang kemudian saya temukan keterkaitannya saat melakukan riset lanjutan,” kata Maya Azka.
Menurut Maya, film ini tidak hanya berbicara mengenai teror yang dialami para pendaki di tengah hutan. Di balik berbagai kejadian mistis yang muncul, terdapat cerita yang lebih dalam mengenai hubungan antarmanusia dan perjalanan emosional setiap tokohnya.
Ia menambahkan bahwa persahabatan menjadi salah satu tema utama yang ingin disampaikan. Para tokoh dalam film digambarkan harus menghadapi berbagai ujian yang menguji kesetiaan, keberanian, dan kepedulian mereka satu sama lain.
Selain itu, unsur keluarga juga menjadi bagian penting dalam cerita. Maya menilai bahwa setiap perjalanan pada akhirnya adalah tentang upaya seseorang untuk memahami dirinya sendiri dan menemukan jalan pulang, baik secara fisik maupun emosional.
Sutradara Indra Gunawan mengaku langsung tertarik ketika menerima naskah film tersebut. Baginya, cerita yang ditawarkan tidak hanya menghadirkan ketegangan khas film horor, tetapi juga memiliki lapisan emosional yang kuat.
Indra melihat kekuatan utama film ini terletak pada perpaduan antara latar pegunungan yang penuh misteri dengan konflik personal yang dialami para tokohnya. Kombinasi tersebut dinilai mampu menghadirkan pengalaman menonton yang berbeda bagi penonton.
Dalam kesempatan yang sama, para pemain film turut berbagi cerita mengenai pengalaman syuting di kawasan pegunungan. Antonio Blanco Jr., Alika, Julio Marekwa, dan para pemain lainnya mengaku harus menghadapi medan yang menantang sekaligus membangun kebersamaan selama proses produksi berlangsung.
Antonio Blanco Jr. mengatakan bahwa seluruh pemain berharap pesan yang terkandung dalam film dapat diterima dengan baik oleh masyarakat. “Pesan yang coba kami sampaikan mudah-mudahan bisa diterima oleh semua penonton dan membuat mereka menikmati film ini,” ujarnya.
Alika Jantinia mengungkapkan bahwa proses syuting menghadirkan banyak pengalaman emosional yang masih terasa hingga film selesai ditonton. Menurutnya, suasana kebersamaan selama syuting membuat seluruh pemain mampu membangun ikatan yang kuat sehingga emosi dalam cerita terasa lebih hidup di layar.
Sementara itu, Giulio Pangrakeun Mareka menilai pengalaman berada di pegunungan selama proses produksi membuat hubungan antarpemain menjadi semakin dekat. Ia juga menyoroti pesan utama film yang mengajak penonton untuk saling menghargai dan menyadari bahwa setiap tindakan dapat berdampak pada orang lain.
Melalui Petaka Gunung Welirang, para pembuat film berharap penonton tidak hanya merasakan ketegangan dan misteri yang tersaji sepanjang cerita. Lebih dari itu, film ini diharapkan dapat menjadi refleksi tentang arti persahabatan, keluarga, kebersamaan, serta perjalanan hidup yang penuh tantangan dan pelajaran berharga. (***)
(Rizki)
